CARA MENGHITUNG MODAL BISNIS MEMBELI RUMAH

 

Tempat tinggal adalah kebutuhan primer setiap orang. Namun banyak orang setuju bahwa rumah misalnya bukanlah sekedar tempat tinggal atau berteduh. Lebih dari itu, rumah seringkali jadi tolok ukur kemapanan ekonomi seseorang. Sejak dahulu rumah dan jenis properti lainnya merupakan salah satu bentuk investasi konvensional dan dipercaya dapat diandalkan untuk menangkal laju inflasi. Bahkan membiakkan uang di properti dirasa sebagian orang lebih aman ketimbang di portfolio instrumen keuangan.

Memahami properti memang susah-susah gampang karenanya agar sukses, ada beberapa hal yang sangat penting diperhatikan jika tertarik berinvestasi ataupun berniat untuk membeli properti:

  1. Modal awal

Diperlukan dana yang besar untuk membeli properti seperti tanah, rumah, ruko, kios dan apartemen. Karenanya, usahakan setidaknya memiliki dana untuk membayar uang muka pembelian properti. Target minimal yang harus dimiliki adalah sebesar total down payment (TDP), yaitu 20-30% dari harga properti. Jika memiliki kocek tebal, membeli dengan tunai keras (hardcash) atau tunai bertahap cukup dianjurkan asalkan tidak mengganggu cashflow.

  1. Adanya alternatif pembiayaan

Menunggu hingga dana terkumpul 100% seringkali tidak bertepatan dengan datangnya peluang yang bagus untuk berinvestasi di properti. Mayoritas orang membeli properti dengan memanfaatkan pendanaan pihak ketiga, baik di Indonesia atau di Amerika sekalipun. Berapapun besarnya, pastikan mampu membayar cicilan bulanan (maksimal 30% dari pendapatan bulanan).
Pertimbangkan jika ada potensi pendapatan sewa dari properti yang dibeli, tentunya bisa mengurangi beban cicilan. Pertimbangan lain adalah pahami dengan baik skema kreditnya, tingkat suku bunga, sistem bunga tetap atau mengambang, besar cicilan dan tenor yang tersedia dari bank pemberi kredit. Semuanya itu akan memberi kemudahan mengatur arus kocek sesuai dengan tujuan investasi

  1. Bersifat Jangka Panjang

Mulai dari saat transaksi pembelian properti selesai hingga menjualnya kembali umumnya membutuhkan waktu yang cukup lama. Jadi sebaiknya jangan menggunakan dana yang segera dibutuhkan dalam 1-3 tahun kedepan untuk membeli properti. Biasanya naik-turun harga rumah mempunyai siklus lima tahunan, bahkan kadang lebih cepat

  1. Jenis Properti

Membeli tanah, rumah, apartemen atau kos-kosan apalagi ruang kantor tentulah berbeda pertimbangannya. Antara rumah baru atau rumah second pun harus dipikirkan dengan baik prospek investasi, optimalisasi lahan dan ruangan, lingkungan sekitar dan biaya ekstra untuk renovasi yang perlu dikeluarkan. Cermatlah dalam memahami karakter dan kebutuhan pasar seiring dengan trend agar tidak salah pilih jenis properti. Salah-salah maksud hati ingin harganya naik malah turun karena kurang jeli mengambil pilihan. Bukti kepemilikan atas rumah second juga merupakan masalah penting, jadi pastikan surat-suratnya benar dan sesuai dengan hukum dan perundang-undang yang berlaku.

  1. Lokasi

Lokasi, lokasi,lokasi adalah kata kunci bagi sukses atau tidaknya membeli properti. Jika pemilihan lokasi tepat, maka keuntungan yang tinggi ada di depan mata. Tentukan dahulu target pasar yang hendak dibidik. Seperti keterangan di bab sebelumnya.

  1. Harga

Hati-hati terjebak dalam harga semu. Salah satu cara yang dipakai menciptakan harga semu adalah dengan propaganda melalui bagian marketing atau iklan yang mengembar-gemborkan setiap periode tertentu harga propertinya sudah naik. Padahal jika dicek ke pialang properti, harga di pasar sekunder masih lebih murah dari harga yang disebut-sebut pihak pengembang. Bisa jadi pula itu adalah ulah para spekulan properti yang memiliki dana besar, dengan tujuan jika mendorong harga cepat naik maka properti dapat dijual kembali. Yang menentukan harga sebuah properti benar-benar naik adalah tingkat minat dan kebutuhan orang atas properti tersebut.

  1. Resiko-resiko

Salah satu keuntungan berinvestasi di properti adalah tidak terpengaruhnya harga properti disaat inflasi naik atau turun. Itulah sebabnya properti sering dipandang sebagai produk anti inflasi. Asalkan lokasi properti tepat dengan karakter dan kebutuhan pasar, harga akan perlahan tapi pasti terus merangkak naik. Rata-rata tingkat keuntungan investasi rumah di Indonesia berkisar antara 10% – 25%. Resiko terburuk dari investasi ini adalah tidak adanya kenaikan bahkan penurunan harga properti yang dibeli (karena oversupply atau macetnya proyek pengembang misalnya) dan sulitnya mencari pembeli menyebabkan uang ditanamkan belum tentu kembali. Pialang properti bisa menjadi narasumber seberapa tinggi demand orang membeli properti di suatu daerah tertentu. Jangan sampai Kcers terjebak, bisa beli tapi tidak bisa menjual kembali nanti.

#AN #omahproperti

(Visited 95 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *